"Ya Allah,janganlah Engkau hukum aku dg sebab (pujian) yg mereka ucapkan,dan ampunilah aku dari (perbuatan dosa) yg tidak mereka ketahui (dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yg mereka sangka)" (HR. Bukhari) ### “Dan apabila kamu menghitung ni’mat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya” (Q.S. Ibrahim: 34) ### “Apabila kamu bersyukur niscaya akan Aku tambahkan nikmat-Ku, dan apabila kamu kufur maka adzab-Ku sangat pedih” (Q.S. Ibrahim:7) ### “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri” (Q.S. Ar-Ra’d:11) ### “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Imran: 139) ### “Dan janganlah kamu berputus asa daripada rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa daripada rahmat Allah melainkan orang-orang yang kufur.” (Q.S. Yusuf: 87) ### “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.S. Al-Baqarah: 286) ### “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5-6) ### “Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya” (Q.S. Ath-Thalaq: 2-3)

Senin, 01 Juli 2013

Katanya memberi, kok diminta lagi?


Pemilihahan Pilkasun/Bayan di dusunku tanggal 23 Juni kemarin diikuti oleh 4 calon. Calon dengan nomor urut kedua (Supriyanto) mendapat suara terbanyak yaitu 405 suara, diikuti calon nomor urut 4 (Deny wijaya) dengan 386 suara, kumudian nomor urut 3 (Munardi) dengan 240 suara, dan yang terakhir nomor urut 1 (Sutris Rianto) dengan memperoleh 130 suara.

Jika kita flashback menjelang hari H banyak cerita lucu yang dapat kita ulas dan sebagai pelajaran untuk kita semua. Ternyata pemilihan kasunpun yang notabenya hanya pemilihan di tingkat yang bawah, masih saja permaianan uang tetap saja terjadi. Ketika itu malam sekitar jam 10 tiba-tiba ada orang mengetok pintu dengan pelan. Dibukalah pintu depan oleh ibukku,

“Oh Mas N (nama samaran), ada apa mas malam-malam kesini, ayo silahkan masuk” .
“Gak usah buk hanya sebentar saja kok, ini ada sedikit titipan dari bapak S (nama samaran), minta doanya besok minggu beliau mau mencalonkan diri sebagai bayan”
“Lhoh, yaudah ini saya terima dan semoga bapak S terpilih sebagai kasun”
“Nanti tolong kalau dari calon lain yang ngasih uang dengan jumlah yang sama atau diatas ini kabarin saya ya bu, nanti biar saya tambah lagi. Kalo begitu saya mohom pamit bu, gak enak juga kalau sampai ada orang yang tahu”.
“O iya makasih mas, hati-hati dijalan”

Bitulah kira-kira percakapan yang terjadi malam itu, ibuku malam itu dikasih uang 300 rb, dengan rincian untuk membeli suara keluargaku yang jumlahnya 3 orang. Beberapa hari kemuadian 1 hari menjelang pemilihan, calon yang satunya lagi, si SR (nama samaran) juga membagi-bagikan uang. Tiap orang diberi uang 100 rb. Sayangnya waktu itu saya sudah kembali kemalang, jadi tidak memperolah jatah uang. Malamnya, calon si S mendengar bahwa si SR juga membagi-bagikan uang dengan nominal yang sama seperti yang dia bagikan ke warga. Si S pun tidak terima dan malam itu juga dia menambah 50rb untuk tiap orang, sehingga uang yang dia bagikan untuk tiap orang di dusunku menjadi 150 ribu rupiah. Bayangkan saja berapa banyak uang yang berjalan ketika itu, seperti halnya tetanggaku yang keluarganya berjumlah lima orang, mereka mengaku mendapat 750 ribu dari si S dan 500rb dari si SR, sehingga uang total yang mereka peroleh sebanyak 1 jt 250 rb, whao sangat banyak kan? Itu adalah realitas yang terjadi di masyarakat kita. bagaimana dengan kedua calon yang lain apakah mereka  juga membagi-bagikan uang ke warga? Jawabnya “YA”, hanya saja mereka punya wilayah sendiri, bukan pada warga kampungku. “Itu adalah pemilihan wakil rakyat di tataran yang paling bawah, apalagi tataran yang atas, berapa banyak uang yang bergulir? Fikirku dalam hati.

Tibalah waktunya pemilihan, semua optimis bahwa dialah yang akan memenangkan pemilihan tersebut. Namanya saja pemilihan pasti ada calon yang kalah dan ada juga calon yang menang. Akhirnya pemilihanpun dimenangkan oleh calon no 2. Bagaimana dengan calon yang lain, apakah mereka akan terima begitu saja atas kekalahan? Ataukah mereka akan menyesali dan kecewa atas uang yang mereka bagikan ke warga sementara keinginannya tidak terkabulkan? Nasi sudah menjadi bubur. Mau disesali, mau tidak terima, semua sudah terjadi.

Lucunya salah satu calon dengan inisial SR, beberapa hari setelah pemilihan dia membuat surat kepada warga dan menyatakan bahwa dirinya kecewa kepada warga yang sudah diberi uang tetapi tidak memilihnya. Oleh karena itu dia meminta kembali uang yang telah diberikan ke warga melalui kader-kadernya. hmmmm katanya memberi dengan ikhlas kok setelah tidak terkabul apa yang diinginkan uang pemberiannya diminta kembali? Dalam hatipun saya hanya bisa berkata “KOK NDAK ISIN YO??????”

Tidak ada komentar: