Pemilihahan
Pilkasun/Bayan di dusunku tanggal 23 Juni kemarin diikuti oleh 4 calon. Calon
dengan nomor urut kedua (Supriyanto) mendapat suara terbanyak yaitu 405 suara,
diikuti calon nomor urut 4 (Deny wijaya) dengan 386 suara, kumudian nomor urut
3 (Munardi) dengan 240 suara, dan yang terakhir nomor urut 1 (Sutris Rianto)
dengan memperoleh 130 suara.
Jika kita flashback menjelang hari H banyak cerita
lucu yang dapat kita ulas dan sebagai pelajaran untuk kita semua. Ternyata pemilihan
kasunpun yang notabenya hanya pemilihan di tingkat yang bawah, masih saja
permaianan uang tetap saja terjadi. Ketika itu malam sekitar jam 10 tiba-tiba
ada orang mengetok pintu dengan pelan. Dibukalah pintu depan oleh ibukku,
“Oh Mas N (nama samaran),
ada apa mas malam-malam kesini, ayo silahkan masuk” .
“Gak usah buk hanya
sebentar saja kok, ini ada sedikit titipan dari bapak S (nama samaran), minta doanya
besok minggu beliau mau mencalonkan diri sebagai bayan”
“Lhoh, yaudah ini saya
terima dan semoga bapak S terpilih sebagai kasun”
“Nanti tolong kalau dari
calon lain yang ngasih uang dengan jumlah yang sama atau diatas ini kabarin
saya ya bu, nanti biar saya tambah lagi. Kalo begitu saya mohom pamit bu, gak
enak juga kalau sampai ada orang yang tahu”.
“O iya makasih mas, hati-hati
dijalan”
Bitulah kira-kira
percakapan yang terjadi malam itu, ibuku malam itu dikasih uang 300 rb, dengan
rincian untuk membeli suara keluargaku yang jumlahnya 3 orang. Beberapa hari kemuadian
1 hari menjelang pemilihan, calon yang satunya lagi, si SR (nama samaran) juga
membagi-bagikan uang. Tiap orang diberi uang 100 rb. Sayangnya waktu itu saya
sudah kembali kemalang, jadi tidak memperolah jatah uang. Malamnya, calon si S
mendengar bahwa si SR juga membagi-bagikan uang dengan nominal yang sama
seperti yang dia bagikan ke warga. Si S pun tidak terima dan malam itu juga dia
menambah 50rb untuk tiap orang, sehingga uang yang dia bagikan untuk tiap orang
di dusunku menjadi 150 ribu rupiah. Bayangkan saja berapa banyak uang yang
berjalan ketika itu, seperti halnya tetanggaku yang keluarganya berjumlah lima
orang, mereka mengaku mendapat 750 ribu dari si S dan 500rb dari si SR,
sehingga uang total yang mereka peroleh sebanyak 1 jt 250 rb, whao sangat
banyak kan? Itu adalah realitas yang terjadi di masyarakat kita. bagaimana
dengan kedua calon yang lain apakah mereka juga membagi-bagikan uang ke warga? Jawabnya “YA”,
hanya saja mereka punya wilayah sendiri, bukan pada warga kampungku. “Itu
adalah pemilihan wakil rakyat di tataran yang paling bawah, apalagi tataran
yang atas, berapa banyak uang yang bergulir? Fikirku dalam hati.
Tibalah waktunya
pemilihan, semua optimis bahwa dialah yang akan memenangkan pemilihan tersebut.
Namanya saja pemilihan pasti ada calon yang kalah dan ada juga calon yang
menang. Akhirnya pemilihanpun dimenangkan oleh calon no 2. Bagaimana dengan
calon yang lain, apakah mereka akan terima begitu saja atas kekalahan? Ataukah mereka
akan menyesali dan kecewa atas uang yang mereka bagikan ke warga sementara
keinginannya tidak terkabulkan? Nasi sudah menjadi bubur. Mau disesali, mau
tidak terima, semua sudah terjadi.
Lucunya salah satu calon
dengan inisial SR, beberapa hari setelah pemilihan dia membuat surat kepada
warga dan menyatakan bahwa dirinya kecewa kepada warga yang sudah diberi uang
tetapi tidak memilihnya. Oleh karena itu dia meminta kembali uang yang telah
diberikan ke warga melalui kader-kadernya. hmmmm katanya memberi dengan ikhlas
kok setelah tidak terkabul apa yang diinginkan uang pemberiannya diminta
kembali? Dalam hatipun saya hanya bisa berkata “KOK NDAK ISIN YO??????”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar